081331441347 admin@amunanet.com
     

    Grup Hasil Transformasi RGE Royal Golden Eagle Ini Mendorong Gerakan Antiplastik di Perusahaan

    No Comments Lain Lain

    Sumber foto: Inside RGE

                Lahir dengan nama grup Royal Golden Eagle (RGE) ini dikenal sangat konsen terhadap kelestarian lingkungan. Banyak bukti memperlihatkannya. Baru-baru ini mereka mencanangkan gerakan antiplastik di perusahaan.

                RGE merupakan korporasi kelas internasional yang bergerak dalam bidang sumber daya. Mereka berdiri pada 1973 dengan nama awal RGE. Pendirinya ialah pengusaha Sukanto Tanoto yang saat ini memegang kendali sebagai Chairman.

                Pada awal mula ketika masih bernama , RGE menggeluti bisnis kayu lapis. Namun, seiring waktu, perubahan terjadi. RGE akhirnya mengubah haluan usahanya ke sektor lain.

                Saat ini tercatat ada beberapa bidang berbeda yang digelutinya. RGE membawahi delapan anak perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa khusus, serat viskosa, serta minyak dan gas.

                Dalam operasionalnya, sejak bernama RGE hingga bertransformasi menjadi Royal Golden Eagle, perusahaan selalu konsen terhadap pelestarian lingkungan. Hal itu tidak lepas dari arahan pendirinya, Sukanto Tanoto, yang ingin operasional perusahaannya selalu melakukan apa yang baik bagi masyarakat, negara, iklim dan pelanggan, dan dengan demikian akan baik bagi perusahaan.

                Banyak langkah yang dilakukan. Salah satu yang terbaru ialah dengan merespons kebeadaan sampah plastik yang sudah sangat mengganggu. Caranya ialah dengan mengajak internal perusahaan terlebih dulu untuk mengurangi pemakaian plastik.

                Langkah tersebut dirasa sangat tepat. Sampah plastik di Indonesia sudah menjadi masalah besar. Bukan hanya di dalam negeri, dampaknya telah berpengaruh ke tingkatan dunia. Lihat saja, seperti dipaparkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Indonesia menjadi negeri penyumbang sampah laut terbesar di dunia.

                Fakta itu sangat memprihatinkan. Menurut Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia menembus angka 64 juta ton/ tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut .

    Harus diakui, pemakaian plastik di Indonesia masih sangat berlebihan. Apa pun kerap dibungkus dengan plastik yang lantas dibuang. Tidak heran, menurut sumber yang sama, jumlah kantong plastik yang terbuang ke lingkungan bisa mencapai 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

    Kondisi ini harus segera diubah. RGE yang dituntut untuk aktif dalam pelestarian lingkungan segera mengambil langkah. Berbagai anak perusahaan di bawah naungannya didorong untuk menumbuhkan kesadaran tentang bahaya sampah plastik.

    Mereka meluncurkannya dengan menghadirkan gerakan The Plastic-Free Challenge sejak Maret 2019. Dalam kegiatan ini karyawan RGE ditantang untuk mengurangi hingga menghapus pemakaian plastik di kegiatan keseharian. Nanti akan ada perhitungan dan pemberian skor terkait pengurangan penggunaan sampah.

    Kegiatan itu pun mendapat sambutan baik. Karyawan Royal Golden Eagle maupun Tanoto Foundation mau berpartisipasi. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya bisa mengubah gaya hidupnya menjadi bebas sampah plastik.

    Pencapaian itu pun mendorong anak-anak perusahaan grup yang bernama RGE ini ikut bergerak. Di perusahaannya masing-masing, mereka menggelar program gerakan antiplastik dengan berbagai bentuk berbeda.

    APRIL GROUP

                APRIL Group sudah langsung melakukan gerakan pengurangan pemakaian sampah plastik di perusahaan sejak Juli 2019. Saat itu, mereka tidak lagi menyediakan plastik di area perusahaan.

                Sebagai contoh di kawasan produksi di Riau Kompleks yang merupakan basis unit usaha APRIL, PT Riau Andalan Pulp & Paper. Di kantin yang di dalamnya sudah tidak ada lagi plastik yang dipakai. Karyawan yang makan di sana diwajibkan membawa tempat makan dan tas jinjing sendiri jika ingin membawa pergi makanan.

                Bukan hanya itu, Hotel Unigraha yang ada di sana juga mengurangi pemakaian plastik. Tidak ada lagi air minum kemasan berbotol plastik di dalamnya. Tamu didorong untuk memakai dispenser yang disediakan jika ingin minum. Selain itu, wadah sampo dan sabun juga bukan lagi plastik, melainkan tempat permanen.

                Sekolah Mutiara Harapan dan Global Andalan yang ada di kompleks diajak melakukan kampanye serupa. Pemakaian sedotan plastik dilarang. Bahkan, para siswa diajari membuat kerajinan dari sampah plastik.

                Buah gerakan tersebut terlihat. Sampah plastik di Hotel Unigraha yang biasanya mencapai 400 kg per bulan turun drastis menjadi 250 kg per bulan. Bukan hanya itu, supermarket yang ada di kompleks perusahan juga jadi ikut berperan serta dengan membagikan 1.500 tas jinjing untuk mengganti plastik.

                Inisiatif tersebut diakui bermanfaat besar dari segi bisnis. Pengurangan pemakaian plastik dinilai oleh anak perusahaan RGE tersebut dapat meningkatkan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation And Amortization (EBITDA) karena memangkas overall costs.

                Upaya APRIL bahkan mendapat apresiasi dari pihak luar. PT RAPP mendapat penghargaan sebagai perusahaan terbaik dalam kategori penanganan sampah plastik pada program Kampanye Zero Plastics di Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Mereka meraihnya dalam Indonesia Green Awards yang diselenggarakan oleh La Tofi School of CSR pada 27 Maret 2019.

    ASIAN AGRI

    Sumber foto: Aprayon

    https://www.aprayon.com/aprs-plastic-free-challenge-sees-staff-make-a-difference/

                Anak usaha grup yang dulu bernama RGE ini memilih mengajak karyawannya untuk meninggalkan pemakaian plastik dalam keseharian pada Juli 2019. Upaya tersebut ditujukan supaya gaya hidup bebas plastik benar-benar bisa diwujudkan.

                Mulanya Asian Agri memutarkan film dokumenter berjudul A Plastic Ocean yang menunjukkan dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan. Baru sesudahnya perusahaan yang bergerak di industri kelapa sawit ini kemudian mengajak karyawannya melakukan Plastic-Free Challenge.

                Rupanya langkah itu berhasil. Di kantor Jakarta setidaknya ada 200 karyawan yang ikut serta dalam program. Mereka berkomitmen mengurangi pemakaian plastik.

                Rangkaian program pun berjalan. Pada pekan pertama karyawan diminta menghitung pemakaian plastik sehari-hari. Setelah itu, pada akhir pekan pertama karyawan berinisiatif membuat komitmen persentase pengurangan pemakaian plastik yang hendak dilakukan. Saat itu, tidak sedikit yang mematok target ambisius dengan memangkas hingga 50 persen.

                Untuk menyemangati karyawan, Asian Agri membagikan kotak makan yang bisa dipakai pada pekan kedua. “Kami mendapat reaksi yang luar biasa dari rekan karyawan, jumlah peserta yang mendaftar jauh melebihi perkiraan kami. Saya bahkan harus buru-buru memesan lebih banyak kotak makan agar jumlahnya cukup bagi seluruh peserta,” ungkap Marina, salah seorang anggota dari tim Sustainability yang mengorganisasi kegiatan.

    Pada periode itu, diadakan pula sesi berbagi tentang kesulitan dan tantangan. Hal itu dirasa penting untuk menjaga antusiasme peserta. Hingga akhirnya pada pekan ketiga diadakan penghitungan pengurangan yang dilakukan.

    Jumlahnya pun menggembirakan. Pada akhir periode, dua pertiga dari seluruh peserta berhasil menggapai target yang dipatok masing-masing. Bahkan, jika ditotal, karyawan Asian Agri mampu mengurangi pemakaian 2.400 bungkus plastik setiap bulan.            Namun, lebih penting dari itu para karyawan grup yang dulu bernama RGE ini mampu menumbuhkan gaya hidup bebas plastik dalam keseharian.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *